Wisata Kota Malang

Peta Kabupaten Malang

Arsip Blog


Jual Beli Laptop Notebook Malang

Malang Kembali, Kukusan Jadi Kepala Kambing

Minggu, 23 Mei 2010

Malang Kembali, Kukusan Jadi Kepala Kambing - Keramaian even Malang Kembali (Malkem) V kemarin mencapai puncaknya. Ribuan masyarakat Malang Raya memenuhi setiap sudut kawasan Jl Ijen dan sekitarnya.

Saking banyaknya pengunjung, even tahunan itu menyebabkan kemacetan yang luar biasa di sejumlah titik. Seperti di simpang empat Jl Bromo, simpang empat Jl Kawi, simpang empat Jl Wilis, Jl Raya Arjuna, Jl Raya Basuki Rahmat, Jl Buring, Jl Bromo, Jl Rinjani, Jl Jakarta, dan sejumlah titik lainnya.

Pemandangan itu terlihat kemarin siang saat panitia menyuguhkan pawai topeng yang diikuti 5.900 peserta. Pawai itu diikuti lembaga pendidikan hingga komunitas kesenian. Mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Pawai itu tidak hanya memacetkan jalan, tapi juga mengundang perhatian warga sekitar. Ribuan warga berjubel di sepanjang jalan yang dilalui peserta pawai. Mulai dari Jl Tugu, Jl Kahuripan, Jl Semeru, hingga di Jl Ijen. "Kukusane kok digawe topeng, lho iku pucuke malah dadi ndase wedos (Tempat menanak nasinya kok dibuat topeng, lho ujungnya kok jadi kepala kambing)," ujar Sunariyah, warga Klojen yang menyaksikan kreasi siswa-siswi SMPN 4 Malang.

Peserta pawai di urutan depan itu memang cukup menarik perhatian masyarakat. Apalagi topeng yang diusung cukup nyentrik. Selain mengemas kukusan menjadi kepala tikus dan kambing, sebagian mereka juga menaiki kuda yang terbuat dari pelepah daun pisang. "Koyok zamanku cilik ae, Rek (Seperti masa kecilku dulu)," sambung Sunariyah.

Pawai topeng itu memang memberikan suguhan yang segar kepada warga. Selain kali pertama ada pawai topeng dengan jumlah peserta yang sangat banyak, bentuk topengnya juga beragam.

Seperti siswa SD Kesatrian yang mengenakan topeng bermotif harimau dengan iringan drum band. Siswa-siswi SMKN 5 Malang juga menyajikan hal serupa. Sebanyak 100 siswa yang diterjunkan itu tidak hanya mempertontonkan karya topeng mereka sendiri, tapi juga menarikan Grebeg Jawa Malangan.

Ada juga suguhan dari Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang yang mengusung tokoh-tokoh dalam pewayangan Mahabarata. Universitas Malang (UM) juga tak mau ketinggalan. Sebanyak 40 personel dari fakultas sastra mengusung dua topeng raksasa serta tarian ruwatan topeng Panji. "Kami ingin menyemarakkan even ini dan sekaligus mendukung upaya pelestarian budaya Panji," ujar Supriyono, dosen seni tari UM saat mendampingi anak didiknya.

Di hari terakhir malkem yang ditutup tadi malam, juga ada kegiatan mewarna seribu topeng Malangan. Kegiatan itu meraih penghargaan MuRI (Museum Rekor Indonesia) yang diserahkan Sri Widayati, manager MuRI, kepada Robin Maclein, branch Manager Indomaret, dan Dwi Cahyono, ketua pelaksana Malkem V.

Sebelum pemecahan rekor MuRI, panitia melepas pawai seribu sepeda ontel atau sepeda angin kuno. Kemudian dilanjutkan festival menari klasik dan tradisi Panji. Beragam kegiatan dilaksanakan di panggung Himpaudi (Himpunan Pendidikan Anak Usia Dini).

Ramainya pengunjung Malkem V itu juga membawa berkah bagi pedagang yang meramaikan even ini. Mulai dari penjaja makanan, minuman, barang antik, pakaian batik, suvenir, hingga makanan lawas seperti gulali dan mut-mutan atau permen.

Mereka meraup banyak keuntungan dari even yang digelar selama empat hari berturut-turut tersebut. Seperti dialami Joko Budi Hartono, penjual permen dengan beragam corak warna.

Dari berjualan itu, dia bisa mengumpulkan sedikitnya uang Rp 1,3 juta dalam sehari. "Rata-rata sehari menghabiskan empat kardus," kata Joko di sela-sela melayani pembeli. (yak/ziz) (jawapos.co.id)

Tulisan Terkait Lainnya



0 komentar:

Posting Komentar